Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mahasiswa Tak Perlu Riset Ke Lapangan Dikala Susun Skripsi Di Tengah Pandemi Covid-19

 di tingkat perguruan tinggi tanpa riset ke lapangan Mahasiswa Tak Perlu Riset ke Lapangan saat Susun Skripsi di Tengah Pandemi Covid-19

Masmalven.com - Akhirnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memperbolehkan ujian akhir (skripsi) di tingkat perguruan tinggi tinggi tanpa riset ke lapangan. Kebijakan tersebut diambil supaya membuat lebih mudah mahasiswa di tengah wabah virus corona (Covid-19).

Untuk pelaksana tuba (PLT) Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Nizam menyampaikan bahwa dalam menuntaskan peran tamat (Skripsi), mahasiswa bisa menggantinya dengan memperbanyak literatur atau tata cara yang lain.

"Untuk karya tulis tamat (Skripsi) tidak harus berbentukpengumpulan data primer di lapanagan atau laboratorium. Metode dan waktunya bisa bermacam-macam dan fleksibel sesuai dengan bimbingan dari dosen pembimbing," Ungkap Nizam.

Nizam juga menyampaikan bahwa Kemendikbud juga memperbolehkan jika akademi tinggi mengatur kembali acara dan tata cara cobaan dengan mengamati situasi dan kondisi di kampus.

Karena beragam tata cara tidak konvesional mampu dijadikan opsi, mulai dari bentuk penugasan, esai, kajian pustaka, evaluasi data, proyek berdikari, dan lainnya.

"Yang paling penting berdasarkan pada learning outcome atau capaian pembelajaran yang dibutuhkan. Untuk program praktik mampu bergeser, akhir semester juga bisa bergeser, dan kalender akademik mampu disesuaikan," tambah Nizam.

Selain itu, Nizam juga meminta akademi tinggi tinggi mengatur sedemikian rupa teladan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring. Perguruan tinggi dapat mempergunakan tata cara-tata cara yang sudah tersedia dan menghindari kegiatanan tatap paras secara langsung.

"Kemendikbud juga menunjukkan otoritas yang luas terhadap pimpinanan sekolah tinggi tinggi tinggi agar mengambil kebijakan yang paling cepat dan baik, sesuai dengan kondisi kawasan masing-masing. Mengingat keadaan di tiap kawasan dan perguruan tinggi tinggi pasti juga beragam," Imbuhnya.

Lanjut Nizam bahwa Dirjen Dikti juga mengeluarkan Surat Edaran Nomor 302/E.E2/KR/2020 wacana Masa Belajar Penyelenggaraan Program Pendidikan.

"Salah satu poin dari surat edaran tersebut ialah adanya dukungan bagi mahasiswa yang terancam drop out (DO) balasan situasi darurat covid-19 dengan menawarkan kebijakan perpanjangan masa studi selama satu semester," katanya.

Nizam juga menegaskan bahwa perpanjangan semester hanya untuk mahasiswa S1 angkatan 2013/2014 yang berakhir di kurun studinya di semester ini.

"Tapi bukan mempunyai arti serta merta semua mahasiswa diperpanjang satu semester. Ini untuk melindungi yang akan di Drop Out (DO), diberikan potensi perpanjangan satu semester," tambah Nizam.

Untuk menindaklanjuti kebijakan tersebut, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) juga menciptakan kebijakan untuk mengganti peran akhir Skripsi menjadi postingan ilmiah.

Kebijakan peran final tersebut dikerjakan untuk menyesuaikan dengan kondisi pemabatasan acara (physical distancing) saat darurat virus corona (Covid-19).

"Kebijakan ini didedikasikan bagi mahasiswa S1 yang sudah kadung memprogram skripsi pada semester genap 2019/2020 ini adalah artikel ilmiah," ujar Rektor Unesa Nurhasan.

Rektor Unesa Nurhasan juga memberikan bahwa keputusan peraturan tersebut telah diterangkan dalam surat bernomor B/17447/UN/38/HK.01.01/2020 terkait pengujian artikel ilmiah. Untuk pengujinya terdiri dari dosen dan dosen pembimbing.

"Artikel ilmiahnya dinilai oleh tiga orang, salah satunya dosen pembimbing," tambahnya.

Selengkapnya